
Bagi orang Korea, Korean BBQ (KBBQ) bukan cuma soal memanggang daging di atas bara. Ia adalah ritual sosial—cara berkumpul, berbagi, dan menjaga keseimbangan rasa.
BACA JUGA : Mengenal Mukbang Ala Korea BBQ Di Jakarta
Korean BBQ atau KBBQ sering terlihat sederhana: daging, panggangan, dan lauk pendamping. Namun bagi orang Korea, cara menikmatinya mengikuti ritme budaya yang sudah terbentuk lama. Ada kebiasaan halus yang membuat KBBQ terasa berbeda—bukan sekadar makan, tapi pengalaman yang punya aturan tidak tertulis. Ada etika tak tertulis, urutan tertentu, hingga filosofi kecil yang membuat pengalaman makan terasa lengkap dan berkesan.
1. Dimulai dari Kebersamaan, Bukan Menu
Saat duduk di meja KBBQ, fokus pertama bukan memilih daging termahal, melainkan siapa yang makan bersama. KBBQ biasanya dinikmati rame-rame—keluarga, teman kerja, atau sahabat lama. Di sinilah obrolan mengalir, tawa muncul, dan waktu terasa melambat. Karena itu, orang Korea jarang makan KBBQ sendirian.
2. Daging Dipanggang Bersama, Bukan Sendiri
Berbeda dengan kebiasaan “ambil sendiri lalu bakar sendiri”, di Korea sering ada satu orang yang bertugas memanggang—biasanya yang paling berpengalaman atau yang paling muda sebagai bentuk sopan santun. Tujuannya sederhana: agar tingkat kematangan merata dan semua orang bisa menikmati daging di waktu yang sama.
Teknik memanggang juga penting:
- Daging tidak dibolak-balik berlebihan.
- Lemak diposisikan untuk melumasi panggangan.
- Daging dipotong setelah matang agar sari tetap terkunci.
3. Banchan Adalah Penyeimbang Rasa
KBBQ tak pernah datang sendirian. Meja akan dipenuhi banchan—kimchi, acar lobak, bayam, tauge, hingga saus fermentasi. Ini bukan hiasan. Setiap banchan berfungsi menyeimbangkan lemak daging dengan rasa asam, pedas, dan segar.
Menariknya, orang Korea tidak mencampur semua banchan jadi satu. Mereka menikmati sedikit demi sedikit, menyesuaikan dengan jenis daging yang sedang dimakan.
4. Ssam: Seni Membungkus yang Tidak Berlebihan
Daun selada atau perilla digunakan untuk membuat ssam (bungkus daging). Aturannya tidak tertulis tapi dipahami bersama:
jangan terlalu besar.
Ssam idealnya sekali gigit—berisi daging, sedikit nasi, saus, dan satu banchan. Terlalu penuh dianggap kurang sopan dan menghilangkan harmoni rasa.
5. Saus Tidak Mengalahkan Daging
Orang Korea jarang “menenggelamkan” daging ke saus. Saus seperti ssamjang atau minyak wijen hanya pelengkap. Filosofinya jelas: rasa asli daging tetap yang utama. Kalau dagingnya bagus, cukup sentuhan kecil saja.
6. Urutan Makan Itu Penting
Biasanya KBBQ dimulai dari daging yang paling netral seperti samgyeopsal polos, lalu berlanjut ke yang dimarinasi. Tujuannya agar lidah tidak “terkunci” rasa manis sejak awal. Setelah daging, barulah sup hangat atau nasi goreng di akhir—sebagai penutup yang menenangkan.
7. Minum Ada Etikanya
Soju atau bir sering menemani KBBQ, tapi ada aturan sopan:
- Menuangkan minum untuk orang lain, bukan diri sendiri.
- Menggunakan dua tangan saat menuang atau menerima.
- Minum sambil sedikit memalingkan wajah saat bersama yang lebih tua.
Ini bukan formalitas kaku, melainkan cara menjaga rasa hormat di meja makan.
8. Tidak Terburu-buru, Tidak Berisik
KBBQ dinikmati perlahan. Tidak ada konsep “cepat habis lalu pergi”. Orang Korea menghargai waktu makan sebagai momen relaksasi. Ponsel jarang disentuh, obrolan lebih hidup, dan makanan dinikmati dengan penuh perhatian.
9. Membersihkan Panggangan Itu Wajar
Jika panggangan mulai gosong, mengganti atau membersihkannya adalah hal biasa. Ini menunjukkan kepedulian terhadap rasa dan kenyamanan bersama, bukan sekadar layanan restoran.
Cara orang Korea menikmati KBBQ mengajarkan satu hal penting: makan adalah pengalaman, bukan target. Daging enak memang penting, tapi kebersamaan, ritme makan, dan keseimbangan rasa jauh lebih utama. Itulah sebabnya KBBQ terasa “hidup”—karena yang dirayakan bukan hanya makanan, tapi juga hubungan antarorang di sekitarnya.
Jika kamu mencoba KBBQ ala Korea, pelankan tempo, berbagi panggangan, dan nikmati setiap gigitan dengan sadar. Rasanya akan berbeda—lebih hangat, lebih dalam, dan jauh lebih berkesan.








