
Tradisi makan daging BBQ di Korea bukan cuma soal memanggang daging di atas bara atau pemanggang gas.
BACA JUGA : Tempat Makan BBQ Korea Terkenal Selalu Ramai Pengunjung
Di balik asap yang mengepul dan suara daging mendesis, ada budaya kebersamaan, etika makan, dan filosofi hidup yang sudah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Korea. Korean BBQ adalah pengalaman sosial, bukan sekadar aktivitas kuliner.
Meja Makan sebagai Ruang Sosial
Di Korea, BBQ hampir selalu dinikmati bersama. Baik itu acara kantor, kumpul keluarga, atau nongkrong bareng teman, duduk mengelilingi satu meja dengan pemanggang di tengah adalah simbol kebersamaan. Semua orang terlibat—ada yang memanggang, ada yang menyiapkan daun selada, ada yang menuang minuman. Tidak ada jarak antara tamu dan tuan rumah; semua setara di meja makan.
Menariknya, orang Korea jarang makan BBQ sendirian. Makan daging dianggap lebih nikmat saat dibagi, karena prosesnya sendiri sudah menjadi bagian dari interaksi sosial.
Peran Daging dalam Budaya
Daging, terutama daging babi dan sapi, punya posisi spesial dalam budaya makan Korea. Dahulu, daging adalah bahan makanan yang cukup mahal dan tidak dikonsumsi setiap hari. Karena itu, BBQ sering diasosiasikan dengan momen spesial, perayaan kecil, atau pelepas penat setelah kerja keras.
Potongan daging biasanya disajikan polos, tanpa bumbu berlebihan. Tujuannya bukan untuk “menyembunyikan” rasa, tetapi justru menonjolkan kualitas daging itu sendiri. Rasa baru dibangun saat daging dimakan bersama saus, bawang, dan sayuran.
Cara Makan
Meski terlihat santai, ada etika tak tertulis dalam menikmati BBQ Korea. Umumnya, orang yang lebih muda atau junior akan membantu memanggang daging untuk yang lebih tua. Potongan daging juga sering dipotong kecil-kecil agar mudah dibagi dan dimakan bersama.
Makan BBQ biasanya tidak langsung “daging saja”. Ada ritme: panggang, ambil sedikit, bungkus dengan daun, tambahkan pelengkap, lalu makan. Proses ini diulang perlahan, membuat acara makan berlangsung lama dan penuh obrolan.
Banchan
BBQ Korea hampir selalu ditemani banchan, yaitu lauk-lauk kecil seperti kimchi, acar lobak, sayuran berbumbu, dan berbagai saus. Banchan bukan hiasan meja, melainkan penyeimbang rasa. Lemak dari daging dipotong oleh rasa asam, pedas, atau segar dari lauk pendamping ini.
Keunikan lainnya, banchan biasanya bisa ditambah tanpa biaya tambahan. Ini mencerminkan filosofi berbagi dan keramahan dalam budaya makan Korea.
Minum dan BBQ
Dalam banyak kesempatan, BBQ juga identik dengan minum bersama. Ada tradisi menuangkan minuman untuk orang lain sebagai tanda hormat, bukan untuk diri sendiri. Aktivitas ini memperkuat hubungan sosial dan rasa saling menghargai di meja makan.
Namun, minum bukan kewajiban. Yang terpenting tetap kebersamaan dan suasana hangat yang tercipta selama makan.
Dari Tradisi Lokal ke Fenomena Global
Awalnya, BBQ adalah kebiasaan lokal yang kuat di kota-kota besar seperti Seoul. Seiring waktu, konsep ini menyebar ke berbagai negara dan mengalami penyesuaian. Meski begitu, esensi BBQ Korea tetap sama: makan bersama, berbagi peran, dan menikmati proses, bukan terburu-buru mengejar kenyang.
Tradisi makan daging BBQ di Korea mengajarkan bahwa makanan bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang hubungan antar manusia. Dari cara memanggang, berbagi lauk, hingga duduk lama sambil berbincang, semuanya mencerminkan nilai kebersamaan yang kuat. Itulah yang membuat Korean BBQ terasa “hidup” dan berbeda dari sekadar makan daging panggang biasa.
Leave a Reply